Peran dari kualitas pelayanan dianggap sebagai faktor yang menentukan kesuksesan organisasi dalam dunia persaingan saat ini. Penurunan kepuasan pelanggan dikarenakan kualitas pelayanan yang buruk akan menjadi suatu masalah literature Internal Marketing menyebutkan bahwa jalan untuk memuaskan pelanggan dengan memberikan kepuasan pada pegawai (Granroos, 1981, 1985: Hesket 1994). Dengan memahami dan menanggapi kebutuhan serta memperdulikan pegawai, tingkat kepuasan pelanggan akan meningkat.
Pierey dan Margon (1991) menyatakan bahwa program Internal Marketing berhubungan langsung dengan program Eksternal Marketing, dengan menggunakan konsep dan elemen yang sama untuk mencapai perubahan organisasi, perlu melaksanakan suatu proses Internal Marketing dan Eksternal Marketing.
Internal Marketing
Pada awal tahun 1980 konsep Internal Marketing pertama kali muncul ke permukaan dalam literature marketing pelayanan (Gronroos, 1978, 1981, 1985; Bery, 1981). Dan kemudian diadopsi oleh literatur manajemen pelayanan (Carlzon, 1987; Norman, 1984). Saat ini banyak industri pelayanan/jasa yang mengalami perubahan sebagai akibat dari kekuatan persaingan dan peraturan pemerintah. Perubahan ini telah membawa mereka pada kesempatan dan tantangan baru. Untuk menghadapi tantangan ini meningkatkan kualitas pelayanan dianggap sebagai suatu keharusan dengan cara memahami dan mengimplementasikan program Internal Marketing, karena Internal Marketing sangat penting untuk semua industri khususnya industri pelayanan/jasa.
Strategi Internal Marketing pertama kali diimplementasikan oleh Scandinavian Airlines System (SAS) (Calzon, 1987). Jan Calzon Presiden SAS memberikan kuasa penuh pada pegawai lini depannya untuk melaksanakan semua tindakan yang dianggap penting untuk memuaskan pelanggannya. Dia menjalankan sistem pengambilan keputusan dengan cara desentralisasi sehingga para pegawai diberi kuasa dan tanggung jawab untuk memberikan fasilitas dan tanggapan langsung akan kebutuhan pelanggan (Calzon, 1987; Albreent dan Zemke, 1985) dalam diskusi paradigma garis depan (yang langsung berhubungan dengan pelanggan) yang mampu menimbulkan ataupun merusak persepsi pelanggan akan kualitas, merupakan elemen penting dalam proses pelayanan yang dapat menjamin kepuasan pelanggan (George, 1977; Lehtinen dan Lehtinen 1982).
Grenroos (1981, p. 237) menyatakan bahwa Internal Marketing seharusnya "menciptakan lingkungan internal yang dapat mendukung kepuasan pelanggan" dapat dicapai jika lini depan diperlakukan sama dengan pelanggan. Disinilah tugas manajer dan staff untuk mendukung dan membantu pegawai lini depan dalam misinya untuk menyenangkan dan memuaskan pelanggan.
Peran Penting Pegawai
Bawen dan Schunder (1988) menemukan bahwa budaya perusahaan/organisasi mempunyai dampak yang penting bagaimana orientasi pelayanan pegawai dan seberapa baik mereka bertindak sebagai pemasar untuk organisasi. Bown dan Schunder juga menemukan bahwa etika pegawai diberikan aturan nilai dan budaya organisasi sedikit kecenderungan mereka untuk berorganisasi.
Tetapi secara umum sulit bagi pemasar untuk mensistematiskan pelanggan bagi seluruh pegawai karena sulit untuk mengumpulkan mereka dalam satu ruangan untuk alasan inilah banyak perusahaan penerbangan bersaing dengan cara menambah kapasitas penumpang daripada meningkatkan sistem pelayanan seperti pelayanan bagasi, penerbangan tepat waktu, penyediaan tempat istirahat dan restoran dalam pesawat (Morash dan Ozment, 1994) Christopher et al (1993) mendefinisikan bahwa kualitas pelayanan sebagai kemampuan organisasi untuk mengetahui kualitas pelanggan akan pelayanan.
Mengingat pentingnya akan kualitas pelayanan telah ada penelitian untuk berusaha/mencoba mengkonseptualisasikan apakah sebenarnya kualitas pelayanan itu dan bagaimana mengukurnya.
Model-model yang telah dikembangkan:
Zero Defection Concep (Reicheld dan Sasser, 1990)
Cycle of Failure Concep (Schlesirger dan Hesket, 1991)
Service Quality Model (Gronsoos, 1984)
Performance Exception Mismitch (Christopher, 1993)
GAP Model dan SERVQUAL (Pasuraman, 1985, 1988, 1991; Zeithmal, 1990)
Perception Exception Perceived Quality Mathmatical Model (Brows dan Swartz, 1989)
Riset ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan pemahaman bagaimana susunan, kualitas pelayanan memainkan peranannya dalam Internal Marketing. Riset ini signifikan untuk semua organisasi yang orientasi pelayanan khususnya bagi mereka yang mempunyai pegawai lini depan yang berintegrasi langsung dengan pelanggan.
Tujuan utama riset adalah untuk mempelajari model kualitas pelayanan internal (INTSERVQUAL) ini diadaptasi dari model GAP (Pasuraman, 1985, 1988, 1991) dan instrumen alat pengukuran SERVQUAL.
Tiga tujuan studi ini adalah:
Untuk membuktikan validitas dan reabilitas dari alat INTSERVQUAL
Untuk menguji secara teori dari hipotesa yang diformulasikan sesuai dengan model yang diusulkan
Untuk mempelajari keseluruhan dari skema model INTSERVQUAL yang dikonseptualisasikan dalam bingkai teori.
Studi ini memilih perusahaan penerbangan sebagai subjek penelitian dengan alasan tingginya unsur pelayanan yang terdapat di dalamnya.
SIA (Singapore Air Lines) perusahaan penerbangan Singapore dipilih dengan alasan:
Memberikan ijin untuk penelitian ini
Sangat mungkin untuk membuat batasan yang jelas antara pegawai lini depan (yang berinteraksi langsung dengan pelanggan) dengan staff yang membantu lini depan
Peneliti telah memperoleh ijin dan dukungan dari manajemen SIA untuk melaksanakan proyek tersebut.
Dedikasi SIA untuk berkualitas pelayanan telah memperoleh pengakuan internasional ini adalah faktor utama dalam kesuksesan mereka. Pada masa sekarang dimana informasi dan teknologi berkembang sangat pesat. SIA menjadikan kualitas pelayanan sebagai faktor kruasial (Chang, 1996).
Mengapa diteliti para pegawai?
Sebagian besar perusahaan penerbangan internasional mempekerjakan ribuan orang (grup SIA mempekerjakan 27.000 staff di seluruh dunia) ketika perusahaan berkembang, begitu juga jumlah pegawai akan bertambah.
Berry (1994) memberikan tiga alasan mengapa perusahaan jasa perlu melakukan riset pegawai:
Pertama, pegawai adalah pelanggan dalam pelayanan internal. Kualitas pelayanan internal akan mempengaruhi kualitas pelayanan eksternal. Pengukuran kualitas pelayanan internal sangat penting.
Kedua, penelitian terhadap pegawai membantu menjelaskan mengapa terjadi permasalahan dalam pelayanan dan bagaimana mengatasinya.
Ketiga, penelitian terhadap pegawai memberikan sistem peringatan awal pada para pemasar karena para pegawai mampu mengidentifikasi suatu permasalahan yang timbul.
SERVQUAL
Kualitas pelayanan secara umum digunakan untuk mengukur pandangan pelanggan akan pelayanan (Zeithmal, 1990). Pelanggan sangat ideal untuk mengukur sebagaimana bagusnya pegawai/karyawan menyediakan kualitas pelayanan karena pelanggan berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengamati para pegawai daripada supervisi.
Tahun 1988 Pasuraman merangkumkan 22 item sebagai alat yang dinamakan SERVQUAL sesuai dengan model GAP, untuk mengukur kualitas pelayanan. Instrumen ini menaksir pandangan pelanggan akan kualitas dengan cara membandingkan antar pandangan dan harapan akan pelayanan yang akan diterima. Teknik yang digunakan untuk mengembangkan alat pengukuran sangat dengan skala validitas dan reabilitas yang didokumentasikan dengan sangat baik.
Dalam laporan pertamanya Pasuraman (1985) menemukan lima dimensi yang cenderung dapat meningkatkan pandangan pelanggan akan kualitas pelayanan yaitu dimensi tangible, reabilitas, tanggung jawab, jaminan dan empati.
Variabel interest dalam studi ini adalah konstruksi dari kualitas pelayanan. Kerangka usulan adaptasi internal dari model GAP dan instrumen SERVQUAL. Dalam studi ini pegawai lini depan sebagai pelanggan internal sementara pegawai pendukung diasumsikan sebagai penyedia pelayanan internal.
Model Konseptual
Studi ini memperkenalkan model kualitas pelayanan internal (Internal Service Ovality/INTSERVQUAL) sesuai dengan model GAP. Daftar istilah dari model GAP asli digunakan dalam studi ini.
Internal gap 1 menjelaskan tentang kinerja percieved support staff terhadap harapan front line staff Melihat perbedaan dalam pandangan pegawai pendukung (penyedia internal) akan harapan dari lini depan untuk menemukan seberapa besar gap/pemisah, konstruksi dari kualitas pelanggan menggunakan 5 dimensi untuk menjelaskan pengukuran akan kualitas pelanggan beserta divinisinya dalam tabel 1.
Internal gap 3 pelayanan yang diterima Adalah perbedaan signifikan antara spesifikasi dari kualitas pelayanan yang dilaksanakan. Staff pendukung memang tidak berinteraksi langsung dengan pelanggan akan tetapi mereka adalah rangkaian penting dalam rantai kualitas. Kehadiran mereka sangat penting sebagai penyedia sarana bagi pegawai lini depan untuk melaksanakan pelayanan yang memuaskan bagi pelanggan.
Keterangan:
Jasa yang dipersepsikan internal consumer atas dasar 5 dimensi penentu kualitas jasa yaitu Tangible, Reliability, Assurance, Responsibility dan Empathy. Jika tidak dipenuhi maka timbul Gap 1.
Dimensi
Definisi
Tangible
Perampokan dari fasilitas fisik, peralatan, pegawai dan bahan komunikasi
Reliabilitas
Kemampuan untuk melaksanakan pelayanan yang dijanjukan secara cepat dan tepat.
Tanggapan
Kemauan untuk membantu pelanggan internal dan menyediakan pelayanan terhadap mereka.
Jaminan
Pengetahuan dan kelemahan pegawai serta kemampuan mereka untuk memberikan kepercayaan.
Empati
Kepedulian, perhatian, individu para pegawai terhadap pegawai lainnya.
Tabel 1. Dimensi SERVQUAL beserta devinisinya
Internal gap 5 Persepsi Harapan Internal Customer Adalah sebagai gap utama dimana harapan pelanggan terhadap pelayanan yang disediakan dibandingkan denga persepsi/pandangan mereka akan pelayanan tersebut.
Hipotesa
Hipotesa penelitian menurut dalam hubungan konsep INTSERQUAL:
H1 : Harapan pegawai lini depan secara signifikan berbeda dengan pandangan pendukung akan harapan pegawai lini depan tersebut.
H2 : Harapan pegawai lini depan secara signifikan berbeda dari pandangan mereka terhadap pandangan pegawai pendukung akan kualitas pelayanan internal.
H 3 : Ranting/nilai pegawai lini depan seluruh kualitas pelayanan yang disediakan oleh pegawai pendukung secara signifikan lebih rendah daripada ranting nilai pegawai pendukung.
H 4 : Rantai/nilai pegawai lini depan pada saat menyediakan pelayanan terhadap penumpang secara significan lebih rendah daripada ranting/nilai pegawai pendukung.
H 5 : Lima dimensi independen secara signifikan akan menjelaskan dalam sebuah kualitas pelayanan internal.
Populasi yang digunakan untuk studi ini adalah karyawan SIA dan Singpore Airport Terminal Service. Mewakili lini depan adalah semua kru kabin dari devisi kru kabin SIA, SATS, pegawai pembersih kabin dari departemen kebersihan dalam pesawat serta pramuniaga dari bagian katering kabin SATS.
Pengumpulan Data
Sampel acak dari 1.000 penumpang pesawat diminta untuk mengisi kuisioner "kualitas pelayanan pegawai lini depan".
Desain non-probabiliti digunakan sampel untuk mengumpulkan data dari pegawai pendukung satu-satunya cara untuk mewawancarai pegawai adalah dengan melakukan pendekatan secara individu ketika dalam masa istirahat.
Dari 1.000 kuisioner untuk kru kabin sebanyak 389 kembali, total ada 23 kuisioner yang ditolak karena salah atau tidak lengkap, mewakili 36,3% tanggapan, 238 kuisioner kembali dari jumlah 360 untuk pegawai pendukung, mewakili 66,6% tanggapan. 7 poin skala Libert digunakan untuk mempermudah pengertian digunakan bahasa yang sederhana. Beberapa sekala dikotomik diganti dengan skala Libert agar pengumpulan data lebih baik. Kuisioner kualitas pelayanan untuk pegawai lini depan (FLQ) terdiri atas 24 item tentang harapan dan 24 item tentang pandangan. Sedangkan kuisioner untuk pegawai pendukung (SSQ) terdiri atas 24 item dan 22 item tentang pandangan mereka terhadap departemennta.
HASIL
Nilai Internal Gap atau nilai INTERSVQUAL utnuk tiap responden dihitung menggunakan formula (yang diadaptasi dari Zeithamal, 1990) yaitu:
ISQ = P1-E1
Dimana:
ISQ : nilai INTSERVQUAL untuk satu dimensi
P1 : persepsi indiviodu terhadap stimulasi dalam satu dimensi
E1 : harapan individu untuk satu dimensi tersebut
Untuk menguji reliabilitas instrumen mempertimbangkan:
Karakteristik individu
Karakteristik seluruh skala yang digunakan
Hubungan individu dengan skala itu.
Tabel II terdiri atas nilai mean dan standar deviasi untuk tiap item ISQ yang dihasilkan dari persepsi dikurangi nilai harapan. Nilai rata-rata untuk 24 item ISQ dalam rentang nilai dari -0,96 untuk item Q4 sampai dengan 2,73 untuk item Q18. Item Q18 mempunyai standar terbesar yaitu 6,48 pemurnian untuk skala INTSVERQUAL menggunakan komputerisasi dengan inter koefisien korelasi dan rehabilitasi koefisien alpha. Koefisien korelasi diantara item-item ditujukan dalam Tabel III dimana Q18 memiliki nilai koefisien korelasi terendah.
Item
Mean
Std. Deviasi
Item
Mean
Std. Deviasi
Q1
-1.713
2.1434
Q13
-1.7337
1.9478
Q2
-1.0902
1.9738
Q24
-2.0246
1.7128
Q3
-1.2295
1.9008
Q15
-1.9180
1.6499
Q4
-0.9590
1.6834
Q16
-1.8525
1.7423
Q5
-1.5492
1.8935
Q17
-1.8115
1.9501
Q6
-1.9426
2.0844
Q18
-2.7295
6.4770
Q7
-1.0902
1.7344
Q19
-1.9508
1.7805
Q8
-1.5738
1.7669
Q20
-1.7869
1.8678
Q9
-1.7458
1.8021
Q21
-1.4180
1.7804
Q10
-1.7458
1.7180
Q22
-1.9627
1.9568
Q11
-1.6803
1.88638
Q23
-2.0984
2.0410
Q12
-2.0082
2.0614
Q24
-2.2049
1.8577
Tabel II. Nilai item kualitas pelayanan internal (Sampel n.366)
Koefisien alfa dikomputerisasi secara terpisah untuk 5 dimensi. Seperti yang ditunjukkan tabel IV, seluruh dimensi terbukti dapat dipercaya kecuali untuk jaminan yang diyakini bahwa penghapusan item tertentu dapat menaikkan nilai koefiseien alfa. Kriteria yang digunakan untuk memutuskan item mana yang akan dihapus berdasarkan CITC (Corrected Item Total Corelation) Q18, komponen dari dimensi kualitas pelayanan untuk jaminan adalah satu-satunya item korelasi terendah sehingga dihilangkan.
Total 5 hipotesa digunalan uintuk Menyelidiki Model INTSERVQUAL:
Untuk menguji sampel independen t tes digunakan. Ditemukan bahwa harapan pegawai lini depan secara signifikan tidak berbeda dari pandangan pegawai pendukung atas harapan pegawai lini depan tersebut. Hal ini bukan sesuatu yang mengejutkan harapan penumpang saat ini sangat tinggi dalam industri penerbangan, menghasilkan permintaan tinggi yang dihadapi oleh pegawai lini depan sehingga mereka mempunyai permintaan yang lebih juga apda penyedia pelayanan internal mereka. Dari hal ini kelihatan bahwa pegawai pendukung menyukai tingginya harapan dari pegawai lini depan akan menyediakan pelayanan internal yang juga lebih baik sehingga hasil dari sampel t test menolak dalam H1.
Hipotesis kedua melihat perbedaan diantara pandangan dan harapan pegawai lini depan akan pelayanan bagi mereka oleh pegawai pendukung menyukai tingginya harapan pegawai lini depan akan kualitas pelayanan internal, hasil hipotesa secara jelas menunjukkan bahwa mereka tidak bertemu. Hal ini dikarenakan adanya pemisahan internal dalam pemberian pelayanan internal.
Hipotesa 3 melihat ranting/nilai pegawai lini depan untuk suatu kualitas pelayanan yang disediakan oleh pegawai pendukung. Hasil dari pengujian hipotesa menemukan cukup signifikan untuk menolak hipotesa 3 dari sini hasil yang valid untuk H sedang dalam proses.
Hipotesa 4 menyebutkan ranting/nilai pegawai lini depan pada saat penyediaan pelayanan terhadap penumpang secara signifikan lebih rendah daripada ranting/nilai pegawai pendukung hipotesa ini ditolak. Ada 2 alasan:
Pegawai pendukung untuk melakukan kontak langsungh dengan penumpang
Beberapa dari pegawai pendukung menganggap bahwa lini depan sebagai pelanggan akhir bukan penumpang.
Sehingga mereka tidak menganggap penumpang masuk dalam hitungan dalam proses pemberian pelayanan pendukung.
Untuk H5 3 langkah analisis regresi dilakukan untuk mengukur variabel dalam semua konstruksi INTSERVQUAL. Hasil dari regresi INTSERVQUAL menyediakan hampir 45% dari varian dalam pandangan pegawai akan kualitas pelayanan dijelaskan oleh 5 variabel yaitu: tangible, reliabilitas, pertanggungjawaban, jaminan dan empati. Regresi INTSERVQUAL secara signifikan sama dengan besarnya nilai regresi INTSERVQUAL akan tetapi lebih rendah daripada nilai regresi pandangan 55%.
Kesimpulan
Tujuan studi ini untuk membuat bingkai kerja, konseptual dan instrumen kuisioner yang memudahkan para peneliti untuk menjelaskan hubungan fungsional diantara pegawai lini depan, pegawai dan pegawai pendukung dalam paradigma Internal Marketing.
Skala harapan dan pandangan yang digunakan telah muncul sebagai ukuran dengan konsistensi reliabilitas internal yang bagus. Skala tersebut adalah:
Harapan pegawai lini depan terhadap pegawai pendukung
Pandangan pegawai lini depan terhadap kinerja pegawai pendukung.
Bukti empiris dari peneliti menunjukkan bahwa reliabilitas adalah kriteria terpenting dari konsumen/pelanggan dalam nilai kualitas pelayanan perusahaan (Pasuraman, 1991).
Wednesday, January 24, 2007
Intserqual Adaptasi Internal dari Model Gap
Posted by Top Article at 6:01 PM 0 comments
Gethuk Lindri
"Gethuk" the term which so familiar in Indonesian people’s ears, especially for Javanese people. Even in a lyric of song said "Gethuk Asale Seko Telo". This traditional food of course has not been strange for us, gethuk was so easy found im traditional market and in foods shops. The price which was relative cheap made many people like it, of course because it was delicious too.
As we knew that different areas have different types of gethuk, like ‘Gethuk Goreng from Sukaraja, ‘Gethuk Trio’ from Magelang, ‘Gethuk Lindri’ from Purworejo and etc. and now, we focused on gethuk from Purworejo there was Gethuk Lindri. For this gethuk usually served in the morning, and because the material of the gethuk was casava so it has height carbohidrate and it made us easy to satisfy.
Gethuk lindri can serve in various, there were brown, red, green, pink, white and etc. And all of the colours was came from the same material there was casava. Maybe this was make people interested to by it.
If you want to by it, you can go to traditional market of foods shops. But there some differences between both. Gethuk which sold in traditional market was still so simple, they use leaf wrapp. The gethuk not use preservative and the price was cheap. So different with gethuk in food shops. They has used good packing, the gethuk use preservative and the price of course more expensive. Although we’ll think that gethuk in food shops was more interesting in wrapping and more Durable, but the fact, both have same quality in teste.
And now up to you, you more like buy gethuk in traditional market or in foods shops. But it will be better if you make gethuk by yourself.
This, I have the way to make ‘Gethuk Lindri’:
Ingredients:
500 gr of casava
250 gr of sugar
200 gr of margarine
1 glass of treacly coconut milk which was boiled till toady
2 dinner spoon of chocolate powder
essences
How to make:
Steam the casava till tender, then grinded and pounded.
Mix sugar and other ingredients.
Divide it into two parts/portions. Give essence then printed it with "Marcato Biscuit".
After that, we make it in rows and piled up with each row in different colours.
Supposing that one colour can roll, then slice it.
Served gethuk by rasp coconut, which has given little salt.
I hope you will try this at home.
Posted by Top Article at 5:59 PM 0 comments
Creating Your Blog
Step1: Go To Blogger.com
Blogger.com is owned by Google.com. It is a free site that will allow you to create your own blog. In fact, you will have the option of creating as many blogs as you like – all for free.
Put the following URL into your web browser: http://www.blogger.com. When you do, you will see the following screen. From this screen, there are three things
you can do. You can sign in (which will be an option once you’ve created an account), you can take a quick tour (which won’t be necessary if you read the remainder of this chapter, although can be helpful to some learning styles), or you can create your own blog now.
Click on the orange arrow that says, “Create Your Blog Now”
Gambar
Step 2: Create an Account
For this step, you will need to create a user name and password. It does not matter what user name you choose. You will also be asked what display name you wish to use. When you post to your blog, this name will be displayed at the end of each post. For now, go ahead and put “editor.”
Later, in Chapter 9, you will learn how to change this for each blog if you wish. Finally, you will need to type in your email address (make sure it is a real address) and check the area that says you agree to their Terms of Service. We have included the Google’s entire Terms of Service in our Appendix.
Gambar
Once you have entered the information, click on the orange “Continue” arrow.
Step 3: Naming Your Blog
Now you will get to name your blog. The first area is the Blog Title of your blog. In this example, the blog title is Kidney Stones. That means, the title at the top of the blog will say Kidney Stones. Later, we will show you how to optimize your Blog Title for search engines. The Blog Title can be changed at any time.
Next you will be asked to create a blog address or URL. Notice that the URL does not have the traditional www at the front. Picking a blog address can be a bit tricky. If you want to keyword optimize your URL for AdSense or other marketing purposes, you will want to read Chapter 8 to find out how to pick a good name.
Before clicking on the orange “Continue” arrow, you will be asked to type in the characters you see in the picture below. This makes sure that you are a person and not an autobot creating the blog.
Gambar
There is one other issue with picking a blog name – the name you want may already be in use. If it is, you will see the following page after clicking continue:
Gambar
At this point, you simply choose a different blog address.
In the sample above, you might want to try blog-and-ping using the dashes, try reversing the name to pingandblog or ping-and-blog, try bloggingandpinging or blogging-and-pinging, or any other number of variations.
Once you find a URL that is not taken, you can move on to Step 4.
Step 4: Choosing a Template
Blogger currently has 12 ready-made templates to choose from. It really does not matter which template you choose. Each one will allow you to blog and ping. In the following screen shot, “Son of Moto” has been picked.
Gambar
After choosing your template, click on the orange “Continue” arrow. As long as you have followed these steps correctly, you will be taken to a screen that let’s you know that your blog has been created. Simply click on the orange “Start Posting” arrow.
Gambar
Posted by Top Article at 5:58 PM 0 comments
Tuesday, December 26, 2006
Teaching Children in The Kindergarten of Immersion
A. Objectives
Children will be able to do following
- Identify words in English which related to recreational object
- Pronounce words in English correctly
- To accustom to listening and speaking
- Able to respond what teacher wants
- Able to respond command with part of their body
- Able to master vocabulary
B. Material
- Imitation bus (bus fantasy)
- Pictures of recreational objects
- Tools which related with the traveling bus
C. Activities
Before, the teaching begin, the teacher has to prepare materials:
- The bus fantasy, if it is possible, but if it is not possible, the teacher can create the class like in the bus.
- The teacher puts pictures of recreational object in the wall, as if it is the road which will the bus cross.
- The teacher ask for one of children to drive the bus (driver).
The teacher controls children to enter the bus (use of gesture, exp.: to say “come on”, we can use our hand to give command to children to enter the bus).
The teacher goes around in the bus or class to make dialogue with children.
For example:
The teacher : Now, we are the bus, are you happy?
Yes or No (use of gesture to talk Y/N “head or sheke your head”)
Children : Yes ………………
No ………………
Teacher : Honey, I have known your feeling
Now, look at out side on the bus, in there are some recreational/tourism objects (point pictures of tourism object with your finger)
That is temple. What is it, honey?
Children : Temple ………………..
Teacher : One again, what is it, honey?
Children : Temple
Teacher : Good (respond with gesture)
…………………………… and further ……………………………………….
As if we have arrived in our destination, the teacher ask to driver to stop the bus (use of gesture)The teacher say “thank you” to driver (with shake hand). Than teacher ask to his children to follow (“thank you” with shake hand).
Posted by Top Article at 2:24 AM 0 comments
The Covert Crime in Educational Institution
April 2007, the national final examination will be held by our government in some schools, namely from primary school level to senior secondary level.
The success in doing the final examination is not only responsibility of student but also responsibility of teacher.
Moreover, the procedure of term graduation is too complicated, it will enable students and teacher to commit the covert crime in education which can denigrate the reputation of institution.
One of indication which happened in one of school in my city is additional administration for success of final examination.
2005/2006, that school was successful to pass 90,9 % it’s students. The school had dealt with Primagama. In fact, Primagama got the test of final examination, and then, it was sold to that school.
In anticipation final examination 2006/2007, that school asked for Rp 250.000,- from each student. The school and Primagama were dare to assure the success of students in doing final examination.Now, in my heart arise a question, how is our campus?
Posted by Top Article at 2:20 AM 0 comments